Metafora Kronis Pejabat Istana Iblis

Metafora Kronis Pasak Kunci Jembatan Iblis

Bekerja sedari pagi buta
Sebelum yang lain terbangun dan bersiap-siap untuk berangkat kerja
Di saat udara dingin menusuk tulang secara membabi buta
Di bawah cahaya rembulan yang masih malu-malu memancarkan sinarnya
Di atas sungai di sebuah kota
Aku mencari nafkah sebagai penarik perahu eretan yang bersahaja

Di sebuah sungai yang kotor dan penuh warna
Dimana warna hitam pekat masih mendominasi dan jadi primadona
Disanalah aku mendapatkan nafkah setiap harinya
Mencari rejeki untuk menyambung kehidupan keluarga
Diantara bau harum tahi yang semerbak memenuhi udara

Meski perahu eretan ini bukan punya sendiri aka ada pemiliknya
Aku tetap saja bekerja dengan sepenuh jiwa
Kulakukan pekerjaan kasar ini atas nama cinta
Walaupun bisa jadi, mungkin karena keadaan yang agak terpaksa
Karena cari kerjaan lain belum juga tentu dapet, udah gitu sekarang pake acara wawancara
Mana ijazah terakhir juga ga nyampe Es-Em-a
Dari sinilah cinta mulai tumbuh diatas perahu sewa

Uang setoran kadang pas, kadang nombok seenaknya
Secara penumpang, kadang sepi kadang rame tiba-tiba
Tapi semua tetap kujalani, karena kuyakin rezeki ga akan kemana
Meski kalau tiap hari nombok, rasanya pengen juga nonjok yang punya perahunya

Bentuk perahu eretan ini sangat sederhana
Terbuat dari kayu dan memiliki atap peneduh diatasnya
Sistem pengoperasian perahu ini terbilang unik dan berbeda
Dimana biasanya perahu menggunakan mesin bermotor atau dayung sebagai penggeraknya
Tetapi perahu eretan ini menggunakan tenaga manusia
Yaitu tenagaku sebagai makhluk penariknya

Dengan seutas kabel kawat yang dibentangkan menyeberangi sungai yang biasanya dari tali baja
Aku menarik kabel-kabel itu menggunakan kedua tanganku yang kebal dan sudah tak seperti aslinya
Secara beberapa Kulit tangan sudah mengeras, daging-daging menonjol, sebagian melepuh, serta penuh dengan luka
Menarik inci demi inci kawat baja ini, menghantar perahu eretan ku sampai ke ujung sana
Menggunakan seluruh otot yang menempel dengan raga
Baik menggunakan otot bisep, maupun otot kerangka

Walau cuma bermodal otot dan perahu kayu seadanya
Tetapi perahu eretanku bisa menampung mobil, truk, dan segala kendaraan roda dua
Tentu saja semakin berat muatanku, aku butuh kenek untuk menarik kawatnya
Selama perahu tidak sampai karam, aku selalu bilang bisa
Tapi kalau sampai perahu tenggelam, aku pasti bilang sampai jumpa

Disini keberadaanku sangat membantu para warga
Bayangin saja kalau mau lewat darat, warga mau engga mau harus memutar sedemikian jauhnya
Secara jembatan di dekat wilayah warga sini belum ada
Belum ditambah lagi jalan yang rusak seperti hutan belantara
Tentu saja jasa penyeberangan menggunakan perahu eretan ini jadi sangat berguna
Sudah menghemat waktu, biayanya murah pula
Dan juga, kelebihan nyebrang pake perahu ini, kamu bakal aman dari terkaman singa
Singa yang suka bawa peluit dan surat tilang yang merajalela

Dan jangan coba-coba kamu nekat tanya kepada sang penguasa
Kenapa tak dibikin jembatan disini dengan segera
Yang mana hal tersebut tentunya bakal mengurangi pendapatanku secara nyata
Tapi sang pemilik perahu terus menyemangati dan seringkali memberikan petuah bijaksana
Memberikan garansi bahwa tak mungkin bakal ada jembatan berdiri disini, karena disini bukan daerah berkembang dan memang agak terlunta-lunta
Secara dulu yang punya janji bikin jembatan disini akhirnya kalah pilkada
Makanya ini jembatan ga bakal mungkin ada, kecuali nunggu bangkitnya Raden Bandung Bandawasa

Selama ga ada keperluan di daerah sini, tentu saja para petinggi yang duduk disana enggan mengurus hal sepele dan tak berguna
Apalagi pake sok sibuk peduli untuk buat jembatan yang cuman hanya dilewati manusia
Secara mereka kan lagi sibuk proyek bikin jembatan ke surga
Sambil korupsi sana sini demi memuaskan birahi materi yang menggelora
Sehingga secara tak sadar malah jembatan ke neraka makin terbuka lebar menanti kehadiran mereka

 

related posts:

Puisi Transportasi


Puisi Profesi
Puisi Politik

%d bloggers like this: