Monthly Archives: August 2014

Meneer Pemberang Zaman Kolonial Belanda

Meneer Pemberang Zaman Kolonial Belanda

Aku keturunan asli Belanda
Wajahku cantik rupawan standar Eropa
Rambut pirang sebahu, kadang digerai kadang kuikat dua
Di tempat asing ini aku lahir dan hidup ikut orangtua
Mereka ditugaskan di negeri orang yang jauh dari negeri nenek moyangnya
Tanah subur yang dulu masih disebut Nederlands-Indie yang beribukotakan Batavia

Papaku merupakan salah satu meneer penguasa di jaman VOC yang cukup terkemuka
Meski pangkatnya bukan seorang Gubernur Jenderal yang merupakan pemimpin utama
Tapi kehidupan kami cukup lumayan secara ayahku ditugaskan menjadi seorang walikota
Rumah kami megah, besar, cukup buat menampung ratusan manusia
Tapi tentu saja kamu-kamu yang pengen nebeng tinggal disini bakal ditolak dengan segera

Aku disini bersekolah di sekolah khusus orang-orang Belanda, Eropa, dan kaum elit pribumi aka kaum borjuis
Wajahku yang cantik membuat para teman-teman sekolah banyak yang naksir dan pada kirim surat  cinta romantis
Baik cowok keturunan Belanda, para pribumi, orang chinese, Inggris, maupun pemuda keturunan Perancis
Semua mendekatiku dengan berbagai macam jurus pedekate, dan ada juga yang berani langsung menyatakan cinta dengan puisi rayuan manis
Bahkan ada salah satu pribumi yang kelewat nekat datang ke rumah cuman buat nembak tanpa ada  rasa takut ditolak meski kita beda etnis
Tentu saja Ayahku yang keluar menemui sang pemuda pribumi itu yang wajahnya mesam-mesem sambil senyam-senyum tipis
Segera saja ayahku menanyakan keperluan pemuda itu datang di waktu malam hari yang sedang gerimis
Setelah tahu niatnya minta ijin untuk memacariku, raut muka Ayah berubah lalu membentaknya sambil bertanya curiga, en kowe orang apa ekstrimis?

Papaku lumayan protektif dan streng terhadap putri semata wayangnya
Pokoknya ada cowok yang cari aku, pintu rumah kami selalu verboden buat para pria
Mau sinyo belanda, anak pribumi ataupun keturunan tionghoa
Papa selalu ngomong, nee, nee, nee, jangan bikin papa aanval, jij sekolah klaar dulu baru papa kasi permissie pacaran sama siapa saja
Naik mobil juga butuh belajar atret dulu toch, tau kapan harus nyalain sein, pintar nge-keker jalan, terus harus ada rebuwes juga
So jij harus sabar, en papa harus tanya dulu ke opa yee nanti di kherkhoff sambil mau kasi tulip serta beberapa bunga
Makanya kini kalo ke sekolah aku selalu diantar sopir bertampang gahar dan berbadan kekar kaya gorilla
Sebagai pelindung sekaligus pengusir cowok-cowok playboy nekat yang hobi zoen-zoen ama tiap wanita
Meski kadang aku suka iseng colong-colong zonder ijin naik motorfiet inreyen papa kalau lagi setres dan menggila
Eh ketika aku lagi asyik ngebut, ikke nengok belakang, schaakmat -ada belasan voorrijder ngekorin gua !

Hidup di Hindia Belanda, membuat aku bisa berbagai macam bahasa
Selain bahasa nederlands, aku juga bisa bahasa sehari-hari yang dipakai inlander, yaitu melayu pasar dan bahasa Jawa
Lalu bahasa inggris, aku juga sudah bisa ratusan kosakata
Terus karena temenan ama orang-orang tionghoa, aku bisa beberapa bahasa lokal dialek cina
Seperti bahasa hokkien dan juga sedikit hakka
Makanya kalau aku jajan kwetiau, bakpao, lomie, bakcang, mi pangsit, coipan, cakwe, atau lontong capgomeh, ikke selalu nawar -koh kurangin gocap ya
Kemudian tentu saja bahasa petjoh aka pecok, yang merupakan bahasa kreol orang londo dulu di Indonesia
Dan meski aku termasuk anak gaul di jamannya, tapi bahasa prokem dan bahasa alay ikke ga terlalu interest juga ga bisa

Aku sebenarnya kerasan tinggal di negeri sistem kolonialisme ini, sebuah tempat yang ditaklukkan lewat penjajahan dan perang
Tapi sayang seribu sayang
Tiba-tiba saja datang rombongan invasi tentara jepang
Yang dengan segera membantai keluargaku dan para tentara Belanda yang membangkang
Akupun tak luput dibunuh karena Ayahku mencoba melawan dengan garang
Tubuhku bersimbah darah akibat rentetan peluru yang terus menembus diriku yang tak berhenti mengerang
Aku masih bisa merasakan tetesan darah yang keluar, sampai kemudian aku merasa tubuhku melayang
Kulihat mayat orangtuaku serta jasadku sendiri ketika rohku akhirnya lepas dari badanku yang malang
Matiku pun tak tenang

Sekarang aku jadi arwah penasaran yang menghantui segala gedung kuno peninggalan jaman kolonial dulu kala
Mau museum, stasiun, sekolahan, semua aku gentayangin tanpa jeda
Menganggu, mengusili, dan menjahili semua orang yang ada
Terkadang melakukan penampakan untuk memberikan efek teror yang tak bakal terlupa
Kalau isengku lagi kumat, aku juga suka memasuki tubuh orang tanpa dosa
Mereka kubiarkan kesurupan berjam-jam sampai kadang aku malah ketiduran saking asyiknya
Yah beginilah kegiatan sehari-hari positif ikke jadi hantu bule dari jaman yang berbeda
Secara ikke mau daftar abang none, tapi sayang ane kaga punya KTP Jakarta

Buat kamu-kamu inlander yang pengen punya temen bule yang cantik jelita
Atau mungkin yee ngebet cari ekspatriat buat blajar bahasa asing, pamer foto selfie, serta teman ngobrol dan bercanda
Ataupun kamu-kamu para lelaki jomblo yang memang lagi niat cari pacar bule buat meningkatkan status serta gaya-gaya
En kowe orang tidak tahu harus mencari kemana
Jangan lupa aku si noni ada di gedung-gedung dan bangunan peninggalan jaman Belanda yang hampir ada di semua kota
Bisa di Lawang Sewu, Museum Bahari, Taman Ismail Marzuki, Weltevreden, SMA Negeri di Bandung, Pabrik Gula Brebes, atau di Ereveld Surabaya
Dan ingatlah, kalau sudah niat datang kesini, jangan hanya cuman mempersiapkan barang bawaan, mental dan jiwa
Tapi ucapkanlah juga salam perpisahan kepada orangtua, para sahabat, handai taulan, dan sanak saudara
Karena mungkin kamu ga bakal bisa pulang selamanya

 

related posts:

Buku Puisi Lucu


Puisi Misteri
Puisi Bahasa
Puisi Sejarah

Published: August 29, 2014 | Comments: Comments

%d bloggers like this: