Tag Archives: puisi tilang

Mistisisme Gaib Daerah Kuningan

Mistisisme Gaib Daerah Kuningan

Ini bukan cerita biasa tentang pengemis
Ini sebuah kejadian mistis
Yang menghantui kota Jakarta di malam hari yang penuh iblis
Baik di langit yang cerah maupun gerimis
Hantu pengemis terbang bakal bikin hatimu teriris-iris

Bisa terbang tapi bukan Superman
Bukan juga Chikung, dewa pengemis yang penuh kesaktian
Bukan juga seorang pendekar yang punya gin kang dari dunia persilatan
Ini cuman hantu pengemis jejadian
Yang suka menakuti dan meneror para pengguna jalan
Selain petugas yang hobi nilang dan anggota kapak merah yang bertebaran

Malam itu di daerah kuningan
Aku pulang kantor larut tengah malam karena ada kerjaan
Mobilku berhenti karena lampu merah menyala secara spontan
Tiba-tiba muncul seorang anak kecil seorang pengemis, yang sudah pasti minta uang sumbangan
Aku cuman tersenyum tipis sambil melambaikan tangan
Mengartikan meski aku ada sejumlah uang recehan
Tapi malam ini aku memang tak mau bagikan

Pengemis itu terus meminta, meski aku sudah berapa kali menolak untuk memberikan
Memang sih cuman aku satu-satunya mobil yang ada di perempatan
Atau memang anak ini tahu kalau aku baru habis gajian
Lampu hijau menyala, aku segera tancap gas, menghindari hal-hal yang tak diinginkan
Anak kecil itu masih berada di sisi jendela, yang baru kusadari beberapa saat kemudian
Aku masih mencoba berpikir rasional, apa si anak kecil ini pake otoped, atau skateboard untuk berjalan
Secara aku juga suka main yang beginian

Aku menginjak pedal gasku makin ke dalam
Tapi si anak kecil ini masih berada di balik jendelaku yang buram
Terus menatapku dengan tatapan yang penuh dendam
Setelah melalui beberapa tikungan tajam
Baru kusadari suatu keanehan yang membuatku bingung sekaligus geram
Bagaimana dia bisa terus ada disitu, tanyaku yang kini mulai seram
Wajahnya yang kucel makin lama makin menempel di kaca jendelaku yang temaram
Ssssseeetannnnnnnnnnnnnnnnn……… teriakku kencang setelah akhirnya tersadar akan adanya ketidakberesan yang mencekam

Sadar-sadar aku sudah di rumah sakit
Mobilku kecelakaan masuk ke dalam parit
Tubuhku penuh luka dan harus di jahit
Gara-gara ga kasi uang receh, aku harus dapat pengalaman pahit
Diikutin hantu pengemis terbang yang pantang menyerah dalam minta duit
Lain kali aku janji ga akan sok irit
Kasih uang sedikit daripada diikutin setan yang bisa bikin hati menjerit
Yang kini keadaanku pasrah memikirkan biaya rumah sakit yang selangit

Dirawat suster-suster cantik nan rupawan
Membuat kesembuhanku lebih cepat daripada tagihan baru rumah sakit yang rutin diinformasikan
Semenjak itulah tiap ada pengemis yang minta-minta, aku selalu kasih uang yang jumlahnya lumayan
Biasanya cuman cepek, ini sekarang aku langsung kasih ceban
Setidaknya aku ga mau masuk rumah sakit lagi ataupun terkena segala macam gangguan
Meski kadang aku masih suka mampir ke rumah sakit menemui suster-susterku dulu sebagai tanda persahabatan

Dan di suatu malam ketika aku lagi menyetir sendirian
Ada seorang pengemis yang diwajahnya penuh luka sabetan
Meminta-minta di perempatan yang sepi di tempat lokasi kejadian waktu dulu ada penampakan
Tanganku gemetar tak karuan
Aku mencoba mengambil beberapa lembar uang puluhan
Itupun berulang kali jatuh karena tanganku gemetaran
Akhirnya uang itu pun bisa kuberikan setelah berhasil menguasai keadaan
Setalah uangku diterima sang pengemis tiba-tiba muncul sekelebat bayangan
Yang membuat jantungku hampir lepas karena ketakutan
Seorang laki-laki tegap tiba-tiba muncul dengan penuh kecepatan
Raut muka yang seram, kumis yang tebal, badan gendut, dengan baju kecoklatan
Pak, anda ditilang karena sudah memberi uang kepada pengemis, ujarnya tegas penuh kewibawaan
Ahhhhh… baru kusadari ternyata yang ini jauh lebih mendingan

 

related posts:

Puisi Misteri


Puisi Profesi
Puisi Kriminal

Published: June 3, 2014 | Comments: Comments

%d bloggers like this: