Monthly Archives: March 2014

Muatan Kebijaksanaan Para Filsuf Buronan

Muatan Kebijaksanaan Para Filsuf Buronan

Beratnya rindumu tak seberat muatanku
Sebuah bait sajak puisi cinta romantis nan pilu
Perjalanan karir yang mengharuskan berpisah dengan sang istri yang setia menunggu
Menunggu tak pasti karena sang suami kadang kembali sambil bawa cewek baru

Putus cinta soal biasa putus rem mati kita
Sebuah kedalaman sebuah bait syair puisi klasik yang penuh romansa
Mengandung secercah arti untuk selalu waspada
Agar sebelum berangkat sang sopir harus mengecek kondisi kendaraannya

Mau pulang malu nggak pulang rindu
Sebuah filosofi tinggi akan sebuah syarat keberhasilan di tempat yang dituju
Meski medannya berat dan jarak yang sangat jauh, truk harus terus melaju
Agar bisa kembali ke pangkuan sang istri tepat waktu

Itulah beberapa kata-kata bijak dari para senior-senior yang lama di jalanan
Meski kami banyak yang tak berpendidikan
Tapi bukan berarti kami tak punya pegangan
Tentunya diluar setir yang selalu setia nempel di tangan

Walau tak bisa berbagi uang dan tabungan
Tapi para sopir selalu sempat berbagi wejangan
Sebuah filosofi hidup yang dalam tertuang dalam sebuah kebijaksanaan
Meski waktu lama habis di jalan, tetapi hidup tetap butuh pedoman

Ada yang bilang kami buronan mertua
Itulah akibatnya kalau suka mengincar janda
Bukan hanya bapaknya yang ngejer-ngejer, tapi anak dan mantu ikutan juga
Tapi bagaimanapun juga pria adalah pria
Jangankan janda ato masih gadis, nenek-nenek aja masih ada yang minta

Aku seorang sopir truk
Muatan pasir, barang, perabotan, sapi, kerbau, sampai kerupuk
Biaya bisa di nego, secara aku juga bukan sopir yang maruk
Lagian ini transportasi juga milik boss si pengusaha kapuk
Sistem bagi hasil per angkut membuat aku selalu bisa isi periuk
Meski hasil ga begitu besar yang penting halal dan ga bikin mabuk
Biar penghasilan pas-pasan tapi istriku sehat dan juga gemuk
Apa ini saatnya aku cari perempuan lain yang lebih seksi dan mudaan, nduk?

Cita-citaku dulu ga muluk muluk
Pengen jadi sopir pribadi mobil mersi yang terkenal cepat dan gesit meliuk-liuk
Tapi apa daya dari dulu cuman pegang truk pasir, truk sampah, truk semen sampai truk keruk
Bintang bersudut tiga hanya bisa kupandang jauh di pelupuk
Mimpi yang makin lama makin sirna dan lapuk
Coba ada yang nawarin, aku pasti langsung mengangguk
Padahal dulu pernah pegang truk mersi milik perusahaan handuk
Tapi koq sampai sekarang ga ada panggilan masuk
Malah kemarin ditawarin jadi sopir truk sedot tinja, aku cuman meratap sedih di hati -kunyuk!

Sopir truk paling males sama jembatan timbang
Bukan masalah muatan, tonase, dan jenis barang
Tapi soalnya disini banyak pungli oleh oknum yang gak berimbang
Makanya sopir-sopir jadi diet setelah ditimbang karena uang selalu berkurang

Belum lagi kalau ada petugas DLLAJ yang hobi memalak dan menantang
Tampang serem dan berwajah garang
Suaranya mengelegar dan juga lantang
Meminta surat izin bongkar muat, surat keterangan uji berkala, dan surat izin penumpang
Yang ada hati hanya bisa ikhlas dan pasrah menerima sebuah surat tilang

Terus ada satuan PJR yang hobi memeras
Kontan saja kantong kami makin terkuras
Secara praktik ilegal ini ga pernah dan tak akan mungkin diberantas
Seperti kata pepatah ibarat jeruk koq makan petugas

Adalagi yang membuat kami resah dan sungkan
Badan bertato, mukanya sangar, biasa dipanggil preman
Ngakunya timer tapi apa daya kami memang korban
Biasa minta jatah tergantung pengalaman
Bilangnya untuk biaya retribusi jalan
Serta biaya penjagaan lahan
Lama-lama aku bingung ini preman apa pegawai Pemerintahan
Koq makin lama makin susah dibedakan

Meski jadi sopir truk penuh hambatan
Tapi hidup harus terus berjalan
Seperti kata pepatah susumu tak semurni solarku teman
Membuat aku yakin bahwa suatu saat pasti ada pejabat murni yang duduk di tampuk kekuasaan

…Please read the edited version in the Jakarta Breaking Poetry Book…
[this poetry has been included in “Jakarta Breaking Poetry” book]

related posts:

Buku Puisi Lucu


Puisi Transportasi
Puisi Profesi
Puisi Politik

Published: March 31, 2014 | Comments: Comments

%d bloggers like this: