kebudayaan

Mudik dalam Puisi

Mudik dalam puisi

Mudik, Tradisi yang hanya ada di Indonesia
Bermacet-macetan ria menuju kampung tercinta
Harusnya hanya dalam hitungan jam, tapi ini satu hari belum tentu tiba
Semua dilakukan demi bertemu keluarga tercinta

Mudik, bukan hanya untuk orang udik
Presiden Amerika aja bilang pulang kampung nih, dik
Berbagai profesi pada balik
Engga bos perusahaan, karyawan kantoran, tukang siomay, tukang rujak, ataupun seorang gundik

Ada yang pakai mobil, pesawat, kapal ataupun kereta
Yang pake transportasi laut bisa ikut kapal tentara
Yang pake transportasi darat tentu harus berjuang ekstra
Yang pake transportasi udara tentu harus membayar ganda

Ada juga pemudik yang agak gila
Atau juga bisa dibilang kelebihan waktu dan tenaga
Mudik pakai gowes aka sepeda
Masuk koran dan TV tentu bukan jadi alasan utama

Pakai bis harus sikut-sikutan
Belum kalau duduk di sebelah bapak-bapak atau nenek-nenek yang keringatan
Pakai kereta juga ga kalah berdesak-desakan
Belum kalau duduk di sebelah pemudik yang bawa ayam atau hewan peliharaan

Ada yang asem ada juga yang bau terasi
Entah belum mandi atau entah sudah ga kena air tiga hari
Kadang ada juga yang mistis bau minyak sesajen untuk orang mati
Entah dukun atau memang sudah jadi hobi

Ada yang sewa mobil dari rental, entah xenia atau avanza
Ada yang sewa angkot, entah jurusan Blok M-Ciledug atau Kalideres-Terminal Kota
Ada yang sewa KWK, metromini, Mikrolet ataupun Kopaja
Tapi belum ada yang nekat sewa TransJakarta

Ada yang bawa durian, salak, nanas, jeruk ataupun nangka
Sebagai oleh-oleh untuk sanak saudara
Kadang ada juga yang tangan kosong tanpa bawa apa-apa
Tetapi semua tetap diterima, asalkan ada amplop sebagai gantinya

Ada yang mudik ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan, ataupun Sumatera
Berjuang mencari nafkah di kota ataupun negeri lain sepenuh jiwa
Mengejar karir yang menjanjikan meski itu harus bersaing dengan rekan sekerja
Mencari jati diri dan penghidupan yang layak meski itu harus bertaruh nyawa

Ada yang tidak pulang ke kampung halaman juga
Entah malu karena belum berhasil atau entah kenapa
Padahal belum tentu tahun depan masih akan datang padanya
Berkumpul bersama keluarga tentunya harus jadi prioritas pertama

Menjelang Lebaran harga-harga melambung tinggi
Entah mengejar cita-cita ataupun sekedar menoreh prestasi
Mulai dari cabe merah, wortel, tomat, ataupun daging sapi
Entah ini permainan pedagang atau kartel ataupun cuman sensasi

Ada yang bilang ini Idul Fitri, ada yang bilang juga ini cuman sebuah hari
Ada yang bilang ini akhir Bulan Ramadan, ada yang lega akhirnya hampir selesai juga menahan lapar dan kehausan
Ada yang bilang ini Lebaran, ada juga yang bilang ini cuman liburan
Ada yang bilang ini akhir puasa, ada yang bilang juga ini saatnya menikmati kota Jakarta

Ada yang salam-salaman sambil peluk-pelukan
Ada juga yang sambil cium pipi kiri dan kanan
Ada yang cuman kirim BBM, Whatsapp, YM, update status ataupun smsan
Tapi semua bilang minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin, teman

…to be continued…
[this poetry has been included in “Jakarta Breaking Poetry” book]

related posts:

Buku Puisi Nyeleneh


Puisi Kebudayaan
Puisi Transportasi

Published: March 11, 2014 | Comments: Comments

%d bloggers like this: