Milliampere Penghilang Denyut Nadi

Milliampere Penghilang Denyut Nadi

Paling senang saat hujan datang mengguyur
Apalagi di tambah kilat yang berkelebatan disertai suara guntur
Segera saja kusambar payungku dan sesegera mungkin meluncur
Ketika mengetahui langit mendung, pertanda hujan akan segera memberikan makmur
Biasanya ke mall-mall terdekat atau pusat-pusat perbelanjaan yang menjamur
Kadang juga ke rumah sakit, pujasera, ataupun tempat-tempat khidmat yang mengumandangkan mazmur
Yang penting ada yang butuh jasa sewa payungku, itu saja aku sudah sangat bersyukur
Mau tua, mau muda, mau cantik, mau jelek, yang penting uang ikhlas mengucur
Dan yang paling utama ada uang receh sebagai pengganti lelah, dan ga pake acara kabur

Jual jasa ojek payung gini, memang pendapatan sudah tentu tak pasti
Tapi ketika hujan turun, puluhan receh sudah pasti dikantongi
Tentunya sangat lumayan untuk membantu orangtuaku dalam membeli nasi
Apalagi hujan turun dengan deras dan tak menunjukkan akan segera berhenti
Serta ditambah pelanggan yang suka ngasi lebih karena sedang berbaik hati
Tentunya kalau begitu kantongku segera saja cepat terisi
Sehingga target untuk hari ini sudah tercapai dan bahkan terlampaui
Tapi nyeseknya kadang sebelum pulang suka dicegat satpam untuk diminta uang rokok aka kena biaya administrasi

Seperti biasanya setelah banyak anak-anak lain yang mengetahui keuntungan dari ngojek model payung begini
Profesi ini tiba-tiba saja langsung jadi digemari
Termasuk anak-anak tetangga sebelah kanan dan kiri
Persaingan mulai meningkat tajam, semakin kesini
Yang dulu biasanya bisa dapat pelanggan diatas dua digit, kalau ga lagi sepi
Sekarang dapat lebih dari lima orang saja, hati sudah bersyukur kepada Ilahi
Udah basah kuyup, badan dingin, sekarang harus sikut-sikutan lagi
Harusnya dari pihak mall, para pelanggan diberi nomor antrian kaya lagi mau naik taksi

Kadang ada pengalaman pahit lain juga ketika lagi ngojek payung di kampus yang subur
Kampus yang indah dengan taman yang terawat, dimana di depan kampus berderet rapi abang-abang jualan bubur
Di kampus yang penuh mahasiswa lama bercampur mahasiswa baru yang masih bau kencur
Mencoba mengais rupiah dari para pelajar-pelajar yang cantik, seksi, dan sewangi anggur
Kirain memayungi badan wangi mahasiswi bakal memberi kenikmatan yang bisa membuat takabur
Secara si mahasiswi kadang bisa dijadikan sarana pewangi proyek-proyek yang belum siap dijemur
Eh ternyata malah si doski wangi ini lupa bawa dompet, alias katanya ketinggalan di kosan, di atas tempat tidur
Ah kalau saja aku jadi si pemegang keputusan kuota impor daging sapi setingkat direktur
Tentunya ini bakal jadi sebuah alasan yang pasti menghibur

Suatu hari ketika tiba-tiba hujan turun mengguyur deras penuh emosi
Aku segera saja kabur ke mall terdekat sambil berlari-lari
Bajuku basah kuyup, tapi itu tak akan menghambat niat untuk mencari rezeki
Menyeberang pagar pembatas jalan yang cukup tinggi
Tak dinyana ada sebuah instalasi kabel yang terbuka dan menempel pada pagar pembatas jalan yang tak kusadari
Tentu saja aku segera tersengat listrik yang penuh energi
Puluhan ribu miliampere arus listrik memasuki tubuhku dengan cepat dan segera menyebar kesana kemari
Jantungku mulai kehilangan irama denyut, syarafku mulai rusak, dan otot-ototku mulai berkontraksi
Aku berteriak kencang, meski kutahu itu sudah terlambat untuk mendapatkan pertolongan dini
Dan tak lama kemudian, tentu saja tubuhku sudah tak lagi bernadi

Aku tahu aku sudah mati
Secara nyawa sudah terlepas dari badan yang membelenggu diri
Tapi mengingat aku dulu tukang ojek payung yang berdedikasi
Tapi aku masih suka menawarkan jasaku kalau hujan lagi turun ke bumi
Tentunya aku mengincar kamu-kamu yang jiwanya lemah dan tak berani

Kalau kamu lagi pakai jasa ojek payung
Di tengah hujan yang deras, di malam sepi penuh awan hitam yang menggantung
Dan tiba-tiba saja anak kecil yang mengikutimu tiba-tiba hilang tanpa gaung
Itu berarti arwahku sudah berada di pundakmu, di atas dirimu yang sedang bingung

 

related posts:

Puisi Profesi


Puisi Misteri

%d bloggers like this: