Masinis Stasiun Tokyo

Masinis Stasiun Tokyo

Aku bukan masinis
Yang selalu duduk santai di depan sambil meringis
Yang tertawa lebar sambil menghisap Philip Moris
Melihat para penumpang berdiri berhimpitan kaya sosis
Buat ngupil aja sudah ga mungkin karena tak ada lagi ruang buat gerak ini jempol atau jari manis
Apalagi kalau sambil kebelet nahan pipis
Mana orang-orang di samping pada bau amis

Naik KRL Komuter
Bikin kepala keluar bintang muter-muter
Jumlah gerbong dengan para penghuninya tidak sesuai lagi brader
Berdesak-desakan seperti ini kadang bikin keder
Dompet, hape dan barang berharga lainnya hanya bisa pasrah kalau copet udah ngiler
Hanya bisa berdoa semoga para pelaku kena blunder

Dari Rawa Buntu sampai Tanah Abang
Memburu waktu demi segengam uang
Dari Duri sampai Tangerang
Mengejar waktu untuk pulang

Naik KRL ada seninya
Dulu beli karcis dan tinggal naik, meski kalau hilang tetap kena denda
Sekarang sudah pake tarif progresif dan kartu COMMET, meski tak sampai ke angkasa
Datang ke stasiun lebih pagi agar tak ketinggalan kereta
Telat hanya setengah menit KRL sudah berangkat, yang ada hanya menelan ludah sambil berbisik da-da
Yang duluan naik dapat tempat duduk ala kadarnya
Terpaksa pura-pura tidur atau modus tidak melihat, kalau ada Ibu hamil atau orangtua
Kalau kamu tahu naik kendaraan biasa ke kantor bisa 1-2 jam lamanya
Naik KRL cuman dalam hitungan menit udah gitu mendukung program Pemerintah lagi mengurangi emisi CO2

Kadang bete nunggu KRL ngetem tak berkesudahan
Apalagi kalau datang itu hujan
Listrik mati hasrat untuk pulang jadi tertahan

Apalagi kalau sampai banjir mulai murka
Terpaksa naik taksi jadi solusi berikutnya
Ataupun naik ojek kalau uang yang ada tidak mendukung suasana

Kadang ada keinginan untuk jadi masinis
Tapi apa daya dulu cuman lulusan sekolah bisnis
Impian orangtua ingin anakanya kerja di perusahaan finansial di negeri Perancis
Tapi apa daya dapet kantor di Bendungan Hilir setelah pindah dari perusahaan di Cimanggis

Meski tidak jadi seorang masinis
Bukan berarti hidupku berjalan sinis
Rambutku tetap klimis
Pakaianku selalu necis
Dan kunikahi juga seorang gadis yang manis
Dan kini ku telah jadi seorang masinis di hatinya, yang menggerakan kereta-kereta cinta tanpa kenal cuti meski hujan gerimis
Ahhh.. so sweet cuplis!

Suka duka naik KRL di Jakarta
Meski badan pegal, linu, capek tak terkira
Apalagi kalau AC-nya mati, panas kayak neraka
Tapi memang ga ada pilihan memadai lain selain dia
Mau nebeng, tapi koq bingung mau nebeng kemana
Mau beli apartemen dekat kantor, tapi ini rumah juga masih sewa
Mau naik mobil pribadi, tapi mau bayar cicilan tiap bulan belum tentu bisa
Mau naik helikopter, tentu saja terkendala biaya meski hasrat masih tetap membara
Mau naik motor, tapi tengsin nanti dikira sales canvassing sama tetangga

Meski buatan Jepang bukan berarti keadaan di dalam seperti di Tokyo sana
Tentunya ini jauh berbeda
Kadang ada ibu-ibu jual gorengan, tape, rujak juhi sampai lumpia
Kadang ada Bapak-bapak juga yang suka pegang-pegang, apalagi yang pakai renda
Belum ada yang muntah-muntah sampai kemana-mana
Ataupun ada yang kentat-kentut tanpa merasa dosa
Inilah KRL Indonesia

…to be continued…
[this poetry has been included in “Jakarta Breaking Poetry” book]

related posts:

Buku Puisi Gokil


Puisi Profesi
Puisi Transportasi

%d bloggers like this: