Manuskrip Perawan di Tanah Harapan

Manuskrip Perawan di Tanah Harapan

Ini Sebuah kisah dari Sulawesi Selatan
Tapi bukan sebuah kisah Sawerigading yang berlatarbelakang sejarah dan kebudayaan
Yang tertutur rapi di dalam manuskrip Sureq Galigo, sebuah epik mitos penciptaan
Sebuah kisah tentang peradaban
Bukan juga sebuah cerita tentang Sultan Hasanuddin di jaman penjajahan
Yang dengan gagah berani mengobarkan pertempuran
Melawan penjajah Belanda yang berusaha menaklukan Kerajaan
Dan berusaha menguasai jalur perdagangan
Sang Sultan dengan semangat tempur tinggi berusaha mempertahankan kedaulatan
Semangat sang Ayam Jantan
Dan bukan juga sebuah cerita tentang Datuk-datuk yang datang jauh dari Minangkabau ke tanah Sang Sultan

Ini cerita tentang sebuah keperawanan
Tapi bukan cerita porno stensilan
Cerita sebuah wacana tes keperawanan bagi siswi lokal oleh Dinas Pendidikan
Tentu saja ini jadi heboh dan mencengangkan

Ini terjadi di Prabumulih, kota penghasil minyak, sebuah tanah harapan
Yang menyediakan segala macam kenikmatan
Mungkin ini sebagai bentuk kegelisahan
Karena banyak para pelajar generasi sekarang tak malu bercumbu di tempat umum dan berlaku tak sopan
Belum lagi maraknya prostitusi remaja disini, yang sudah mengakar dan membentuk jaringan
Salah satu pelaku bilang bahwa dia sudah ga perawan, makanya nekat jual sekalian cari tambahan
Entah ini untuk sekedar nikmat atau untuk sebuah penghasilan

Kalau tes ini jadi diberlakukan
Mungkin yang ga perawan ga bisa sekolah lagi, dan mesti dikemanakan
Kalau menganggur apa mereka ga berpikir lebih baik jadi wanita penghibur sekalian
Apa maunya sang pengagas wacana, memang sengaja untuk mengarahkan

Kalau dilarang berhenti, S dicoret disebuah papan bulatan
Kalau dilarang masuk, gambar minus berwarna putih, dengan latar belakang merah memenuhi papan
Nah Kalau perawan dilarang sekolah jadi dilaksanakan
Gimana harus bikin papan rambu tanda larangan
Apa harus pake gambar kelamin perempuan
Dicoret atau cukup diberi latar belakang warna yang mencolok dan di tempel di gerbang sekolahan
Takutnya nanti malah dikira tempat pelacuran

Ngetes perawan juga membingungkan
Gimana kalau hilangnya perawan karena olah raga atau kecelakaan
Gimana kalau si cewek memang sudah resmi menikah, meski itu kecepetan
Gimana kalau target penah masturbasi pake alat, pake jari, atau pake buah-buahan
Gimana kalau pas waktunya tes, ternyata doski pas lagi datang bulan
Belum lagi ga semua wangi, alias ada yang bau anyir dan lagi keputihan
Apa tes ini perlu diberi nilai dari satu sampai sembilan
Yang sepuluh ga perlu karena kesempurnaan bukan di selangkangan
Yang nantinya kalau di wisuda hal tersebut bakal tercantum resmi di sertifikat kelulusan
Lulus tes perawan dan Ujian Nasional secara memuaskan
Lalu gimana dengan tradisi lulus sekolah yang sering konvoi dan coret-coretan
Apa perlu di tempat yang lolos tes itu juga dicoret-coret dan ditandatangan

Ada yang protes kalau perawan harus di tes, harusnya begitu juga dengan keperjakaan
Mengurangi diskriminasi gender yang berkepanjangan
Pernah ga mikir cara menguji-nya gimana, apa seperti sebuah uji coba emisi kendaraan
Yang lewat kenalpot, kemudian bisa didapat emisi gas karbon yang dihasilkan
Meski sama-sama bentuknya, tapi kurasa yang ini lain jurusan

Ngecek perawan katanya gampang, cukup dengan tiduran
Seperti posisi orang sedang melahirkan
Tentunya posisi dalam keadaan bugil saat pemeriksaan
Lalu si perempuan harus ngangkang tanpa hambatan
Dari situ bakal kelihatan selaput tipis yang digunjingkan
Apa masih ada atau sudah ada yang booking duluan

Wacana tes barang pribadi ini masih kontroversi dan diperdebatkan
Tapi kalau itu jadi beneran
Aku yang pertama daftar jadi sukarelawan
Secara pengalaman cukup meyakinkan
Dari cicip pepaya, kupas mangga, sampai belah durian

…see the edited version in the Jakarta Breaking Poetry Book…
[this poetry has been included in “Jakarta Breaking Poetry” book]

related posts:

Buku Puisi Nakal


Puisi Politik
Puisi Sex
Puisi Sejarah

%d bloggers like this: