Manajemen Romusha Pengusaha Gila

Manajemen Romusha Pengusaha Gila

Aku selalu bangun subuh
Meski nyawa masih terkumpul separuh
Tapi demi karir yang agar tidak sampai menjauh
Makanya perjuangan hidup ini harus ditempuh
Biar berat aku tak pernah mengeluh
Tapi itu kalau di depan atasan yang galak dan penuh gemuruh

Aku bangun pagi sebelum kokok sang ayam
Meski tidurku larut tengah malam
Tapi apa daya aku harus berangkat sebelum jam enam
Kadang sempat sarapan kadang cuma makan angin dalam-dalam
Kadang mandi sebadan kadang cuma relain jempol kaki buat berendam
Kadang sempet lari-lari kecil agar lebih seger kadang cuma sempet ber-gangnam

Ku yakin sang ayam penasaran penuh tanya
Ini manusia kenapa bangun lebih cepet dari yang seharusnya
Sampai si ayam agak minder gitu kalau aku lewat di depannya
Malu tiap hari selalu dilangkahin kokokan-nya
Harusnya merupakan tugasnya untuk bangunin pemilik, ini malah kebalikan dari semestinya
Sampai suatu hari kutemukan si ayam tergeletak di tanah di dalam kandangnya
Kepalanya berdarah penuh luka
Rupanya si ayam bunuh diri karena tak kuat menanggung malu yang mendera
Tak kuat menahan rasa bersalah dan perasaan berdosa
Aku hanya bisa menggendong jasadnya yang kaku sambil berlinang air mata

Pagi gini otak masih berada di posisi tingkat paling dangkal
Mata kadang masih melek kurang seperempat jengkal
Jiwa juga masih belum sadar total
Tapi aku harus beres-beres sampai final
Geber sang motor sampai kantor tanpa aral
Kecepatan penuh mendekati maksimal
Di jalan baru keinget kalau belum sikat gigi, pantes daritadi agak-agak mual

Aku memang karyawan andalan
Secara semua target aku selesaikan
Posisi manajer banyak bawahan
Ga bisa terbayang kalau aku sampai keluar pindah ke perusahaan saingan
Secara aku yang bertugas rekrut orang baru, masalah IT, pembukuan sampai divisi pemasaran
Semua lini dan seluruh bagian
Boss bilang aku orang kepercayaan aka jadi tangan kanan
Tapi aku merasa ini semua kaki dan tangan di pakai perusahaan

Office Boy dipecat pun kadang aku yang sapu-sapu
Pengen kopi aku terpaksa buat sendiri meski Boss kadang nitip buatin tanpa malu
Pengen mi instan juga masak sendiri, meski harus nunggu sepi biar ga ada yang mau
Tapi kadang si Boss nyium aromanya, lalu segera minta bikinin satu
Website perusahaan kena hack, aku pula yang harus ngutak-atik script yang keinfeksi benalu
Tutup kantor pun kalau satpam ga masuk aku sendiri yang gembok pintu
Kadang mikir ini kerja kantoran apa romusha model baru

Rencana hati pengen keluar dari sini
Tapi begitu disampaikan ke si Boss selalu saja dihalang-halangi
Katanya nanti tolong dipertimbangkan dulu sebelum pergi
Terus biasanya ujung-ujungnya aku dinaikkin gaji
Yah lumayanlah buat nambah tabungan dan beli pengganti ayamku yang mati harakiri

Sebulan kemudian aku nemuin si Boss lagi di ruangannya seorang diri
Sudah saatnya aku cari pekerjaan baru, kataku padanya dengan hati-hati
Eh malah ama si Boss aku diberi cuti
Katanya sudah saatnya aku liburan panjang di Bali
Lalu menyuruh aku bikin laporan keuangan yang masih ngantri

Beberapa bulan kemudian karena udah ga tahan aku ngomong lagi mau berhenti
Tapi Boss dengan gaya ramah bilang bakal dibagi saham perusahaan nanti
Tangannya merangkul penuh persahabatan bilang kita akan jadi partner kerja hebat yang ditakuti
Baik di luar ataupun di dalam negeri
Aku cuman tersenyum tipis sembari menahan dongkol, karena tau itu basa-basi
Lalu dengan langkah gontai aku balik ke meja kerjaku ngelarin report yang tertunda tadi
Ga tau deh kedepan apa lagi yang akan ditawarkan, kalau aku sampai minta keluar lagi
Sekilas cuman terbayang istri si Boss yang lumayan cantik dan juga seksi

…see the edited version in the Jakarta Breaking Poetry Book…
[this poetry has been included in “Jakarta Breaking Poetry” book]

related posts:

Buku Puisi Depresi


Puisi Profesi

%d bloggers like this: