Malam Sejuta Misteri

Malam Sejuta Misteri

Aku duduk termenung disini
Disebuah pohon yang tinggi
Menyelami hidup setelah mati
Sembari menanti sang kekasih hati

Berada di pucuk pohon kerabat kembang sepatu
Menatap indahnya bumi yang kelabu
Merenungi nyawa yang telah berlalu

Tawaku membahana memenuhi kuburan
Tempat jin dan segala setan
Tempat dimana aku hidup berkalang ratapan
Menikmati malam penuh bulan

Harum semerbak bunga kemboja
Membayangi segala langkah dan segenap asa
Memenuhi relung-relung sendi yang berduka

Kalau kamu dengar suara cekikikan
Di tengah-tengah hutan
Bisa jadi itu aku sedang mencari korban
Kalu kamu cium bau wangi kemenyan
Entah di pinggir kota, di dekat desa, atau di pinggir jalan
Bisa jadi itu aku sedang mencari teman

Mereka bilang aku kuntilanak
Perempuan mati beranak
Saat hamil aku mati mendadak
Ada yang bunuh diri, ada yang dibunuh, ada yang ketabrak
Jadi tak sempat aku beranak-pinak
Ada yang dari Jepara, Kediri sampai Pontianak
Tetapi semua tetap berbaju putih tanpa bercak
Yang melihatku selalu pingsan atau berteriak
Ada lagi yang diam seribu bahasa lalu ngacir sambil berseru tolong MAK!

Jangan panggil aku superhero
Mentang-mentang aku bisa terbang solo
Bedanya tipis tapi tolong denger aku dolo
Aku memang tak suka kalau dibanding-bandingkan begito

Aku bukan penghuni terowongan casablanca
Karena itu cuman di film semata
Aku bukan pula penunggu cermin dan sejenisnya
Secara aku bukan jin lampu Aladdin dan sebangsanya

Malam kesekian yang sangat sunyi
Diiringi harum wangi bunga melati
Dinginnya angin menusuk duri
Duduk berayun seorang diri
Memikirkan keluh-kesah Ilahi
Meratapi kehidupan penuh misteri
Membongkar perasaan gundah hati

Cintaku kandas ditelan kematian
Anak yang belum sempat kutimang hanya jadi impian
Orangtua yang kucinta hanya jadi kenangan

Pembunuhku lari tak berbekas
Apa daya penyelidikan yang ada belum juga tuntas
Meninggalkan jasadku di sebuah teras
Membuat polisi masih hutang sebuah tugas
Membantuku mencari jejak sang penebas

Darahku kering membasahi lantai
Rambut panjangku basah terurai
Meski ususku tak sampai terburai
Tapi itu cukup untuk memisahkan rohku dari badan yang lunglai
Orangtuaku memang telah bercerai
Tapi kematianku tetap saja tak membuat mereka santai
Tangisan mereka menderai-derai

Matiku tak tersangkut gir
Secara aku ga bisa nyetir
Tentu saja yang ini bukan kerjaan montir
Dan yang ini juga ga jadi langsuir
Hukum para tersangka seberat-beratnya sir!

Pembunuhku bukan juga seorang jambret
Secara itu bossku pengusaha banner dan pamflet
Yang menghamiliku tanpa mau bertanggungjawab, kampret!
Katanya kreditnya agak macet
Maka aku harus segera pergi ke kota Phuket
Aku maunya dinikahi secara resmi, menurut etiket
Tapi tak nyana dia mengeluarkan silet
Tentu saja hanya itu yang kuingat sebelum kubangun di hutan karet

Arwahku berjalan membawa dendam membara
Mencari keadilan kepada sang murka
Yang terdengar hanya tangisan neraka
Jeritan setan yang bersuka-cita

Kalau kamu tahu dimana keberadaan pelaku
Jangan lupa aku ada di pohon waru
Menanti jawab dan terang dari darimu

 

related posts:

Misteri


Kriminal

%d bloggers like this: